Me

Me

Minggu, 19 Desember 2010

seri telaah kristen X: AKIDAH DAN SEJARAHNYA 2: MASA YUNANI KUNO

... LANJUTAN ...



FILSAFAT YUNANI KUNO ATAU SOFISME-RELATIVISME


Setidaknya, mari kita telaah berbagai pemikiran dan distorsi atau bahkan resultan dari telaah pemikiran (Filsafat) dan Hati ini, sejak suatu jaman terkenal, yaitu jaman Yunani Sofisme Kuno dengan Filsafat Sofistik Yunani Kuno pra-Masehinya itu. 

Permulaan pemilihan masa telaah ini juga sesuai dengan pembagian telaah jaman yang umum saat ini (sesuai pembagiannya oleh bangsa Barat yang mendominasi ilmu-pengetahuan saat ini). 

Masa Yunani Kuno ini antara lain bertokohkan Filsuf Thales (624-546 SM), Anaximander, Parmanides, Gorgias, Zeno, Socrates, Plato, Aristoteles, Ptolemeus, Galen, Hipocrates, Euclides, dsb. 

Masa ini kemudian juga menjadi salah satu inspirasi Renaissance Barat berabad-abad kemudian setelah Masa Abad Pertengahan (Medieval), dalam melawan kebodohan masa Abad Pertengahan.

Walaupun sudah jamak pula kebiasaan orang dalam berpikir kritis di masa Yunani Kuno ini, namun secara umum inti dari pemikiran-pemikiran Filsafat Sofistik Yunani Kuno mereka adalah ”relativitas pemikiran”, atau yang disebut juga sebagai, Filsafat Relativisme. 

Filsafat Relativisme ini, adalah paham yang berdasarkan pemikiran dasar bahwa "Kebenaran itu sesungguhnya (adalah) relatif”. Maka karenanya pula, ”seluruh versi kebenaran dapat saja menjadi benar”, yang dalam hal ini bahkan masih pula bergantung kepada pemikiran, perasaan, hawa nafsu, dan lain-lain, dari para pemikirnya; manusia, tentu saja. 

Dan di beberapa Abad kemudian, khususnya di masa kini, ini juga menjadi salah satu inspirasi dasar gerakan Pluralisme. Termasuk juga dalam Pluralisme Agama (”Bahwa semua agama itu benar, semua mengajak ke Surga, maka Tuhan dapat dicapai melalui agama manapun, karena kebenaran itu sebenarnya relatif”) dan Liberalisme, yang didengung-dengungkan kaum Liberalis, Sekuleris, Pluralis, Spiritualis, Fremasonry, dan sebagainya. 

Kemungkinan menelaah dan menggunakan alam semesta dengan menggunakan akal yang ternyata terbatas kemampuannya itu, menjadi menarik, bagi kaum ini, dan mereka menggunakannya untuk memahami segala hal. 

Telah dipaparkan sebelumnya, bahwa sebab dari Filsafat, adalah pemikiran akan alam semesta, dan segala hal yang berkaitan dengannya. Maka, misalnya yang terkenal, dalam hal ini, adalah perdebatan di antara mereka sendiri, kaum pemikir-filsuf di masa Yunani Kuno itu, tentang apa sesungguhnya isi dari alam semesta, yang notabene lebih didasarkan kepada sangkaan dan pemikiran menurut mereka secara ‘bebas’ (dengan kata lain juga, lebih-kurang, adalah dengan ‘liar’), tanpa banyak mengindahkan petunjuk aturan dari Tuhan. 

Kiranya ini juga dapat telah terjadi karena tak cukup ada ilmu-pengetahuan di masanya, sebagai pembanding-penguji kebenarannya, maka pemikiran dapat menjadi liar, rusak, dan merusak. Dan manusia serta lingkungannya pun tak pelak turut menjadi rusak. Kebijaksanaan, atau hikmah, tentu saja, diperlukan dalam menyaringnya. 


Dalam buku ”Filsafat Umum” oleh Prof. Ahmad Tafsir (banyak sumber penulisan tentang berbagai macam Filsafat di naskah ini berasal dari buku ini pula), contoh telaah pemikiran relatif dari Filsafat Relativisme Sofistik Yunani adalah:

- Klaim Thales tentang alam semesta, dalam menjawab pertanyaan ”Apakah isi alami dari alam semesta?” Jawabannya karenanya adalah, ”Air! ”. 

- Klaim Anaximander tentang pertanyaan yang sama, yang adalah bahwa, “Substansi pertama, yaitu udara, telah ada dengan sendirinya”. 

- Klaim Heraclitus bahwa, “Berdasarkan intuisi(nya), alam (itu) selalu berubah”. 

- Di luar klaim ini, ada tokohnya yang lain yang bernama Parmanides, yang bersandarkan kepada pemanfaatan logika dan deduksi logis (primitif). 

- Sementara itu, Filsuf yang bernama Zeno, masih menekankan pada telaah Filsafat Relativisme dan karenanya mengaminkan Relativisme kebenaran. 

- Tokohnya yang mungkin paling terkemuka adalah Socrates (384-322 SM).

Socrates dapat dikatakan adalah seorang moralis yang tidak sepenuhnya mendasarkan diri pada Akal, namun juga membangun pemahamannya melalui eksplorasi Hati, dan ia tidak mau percaya pada relativitas kebenaran. 

Maka Socratespun menegaskan bahwa, “Tidak semua kebenaran relatif, melainkan ada kebenaran sejati secara umum atau obyektif”. 
Di sini, Socrates telah selangkah lebih maju daripada rekan-rekan sejawatnya, mencoba menelaah alam dan potensinya dengan lebih seimbang. Dia, menurut kaum Filosof Barat, lebih religius. 

- Murid Socrates, Plato, adalah pencetus Filsafat Teosentris, yaitu sebuah pemahaman bahwa semuanya berpusat kepada Tuhan, dan kebenaran itu karenanya, sudah ada dengan sendirinya dan berpusat kepada Tuhan. Dia pun, seperti gurunya, semakin religius. 

Paham Platonisme ini di kemudian hari, di masa Filsafat Kristen, menjadi dasar bangsa Barat (Kristen) dan para Filsuf serta aliran Filsafatnya untuk mengklaim tentang kemutlakan kebenaran ajaran agama mereka (penjelasan tentang ini semua ada di bagian Filsafat Abad Pertengahan) dengan segala argumentasinya. 

Bahkan kaum Apologetik yang senang mencari berbagai macam cara untuk membenarkan klaim mereka, misalnya kaum Apologetik Gereja, senang bermain-main di antara berbagai paradigma pemikiran terutama pemkiran a la Relativisme, sayangnya tanpa banyak menyadari kiranya, bahwa tak ada pemikiran manusia yang sempurna.

- Tokoh Filsafat Sosisme Yunani yang menonjol kemudian, Aristoteles, amat dipengaruhi metode yang kemudian disebut sebagai metode Sistematis Empiris yaitu metode yang mendasarkan keyakinannya hanya kepada pengalaman yang dialami, dalam menelaah sesuatu. Penganut paham ini, tak akan mau mempercayai apapun, tanpa mengalaminya terlebih dulu. 

Hal ini, di kemudian hari berabad-abad kemudian, juga menjadi dasar paham yang mengedepankan logika (saja) dalam menelaah apapun, misalnya, paham Rasionalisme, Materialisme, dan tentu saja, Empirisme (penjelasan tentang ini semua ada di bagian Filsafat Modern dari naskah ini), yang menggali inspirasinya antara lain dari Filsafat Yunani Kuno ini, sesudah muak akan kungkungan akan potensi akal pada Masa Abad Pertengahan di bawah kontrol Gereja. 


Di masa ini, yang dipentingkan secara umum adalah penggunaan Akal. 

Dapatlah dikatakan karenanya, bahwa dalam masa ‘perang’ berkepanjangan antara Akal dan Hati sepanjang sejarah manusia, pemanfaatan Akal (walaupun secara dominan masih relatif menurut klaim pemikirnya masing-masing), dianggap menang pada masa itu.

Pemanfaatan akal dominan di masa ini, namun tetap tidak menjamin kebenaran, karena adanya kecenderungan kebenaran relatif (Filsafat Relativisme Sofis Yunani Kuno) di mana semua versi kebenaran manusia dapat saja secara bersamaan dianggap benar itu, (tak cukup) obyektif. 


... BERSAMBUNG ...

seri telaah kristen IX: AKIDAH DAN SEJARAHNYA 1: MASA YUNANI KUNO

.. LANJUTAN ...

Kita akan kembali ke masa Yunani Kuno, sebelum masa Masehi saat Yesus dalam khazanah Kristen ada di Bumi. Ini diperlukan, untuk mengerti cara berpikir kaum Barat yang mendominasi agama Kristen, termasuk bahwa ada berbagai pemikiran dan akidahnya yang diadopsi mereka. 

Maka menurut Barat atau Filsafat Barat, sehubungan dengan ini, telaah agama dan pemikiran, dapat pula dipisahkan kemudian (bila memang saja perlu untuk dipisahkan), mengikuti pengaruh adanya sekian banyak konsentrasi penelaahan dan pembangunan potensi manusia yang dikelompokkan menjadi dua bagian besar, yang juga sesuai menurut para ahli pemikiran modern Barat yaitu:

• penelaahan melalui jalur Akal (berdasarkan logika, rasio, empirik, nyata) 

• penelaahan melalui jalur Hati (berdasarkan perasaan, abstrak) 

Kemudian kita dapat temukan pula pola, kecenderungan, naluri, tindakan serupa, rangkaian pemilah-milahan di berbagai hal-ihwal ragam sisi kehidupan manusia lainnya yang mengikuti dua pemisahan dasar ini. 

Dan karenanya, dengan didominasi peradaban bangsa Barat itu, manusia selama berabad-abad pula membuat pemisahan yang akhirnya menjadi perang berkepanjangan antara:

- Pendukung telaah kehidupan ‘Jalur Akal’ (atau Pemikiran, Logika), melawan, 

- Pendukung telaah kehidupan ‘Jalur Hati’ (yang menurut sebagian manusia, adalah Agama atau Iman) 

Keduanya sering dianggap bertentangan pula satu sama lain, bagi sementara kalangan. 

Dalam Islam sendiri, tidaklah demikian, karena setidaknya saja, keduanya adalah potensi yang diberikan Allah subhanahu wa ta’aala kepada makhlukNya. 

Keduanya patut berjalan bersama dan karenanya pula, sepatutnyalah, saling melengkapi satu sama lain. Atau bahkan, sebenarnya, tak ada pembagian demikian. 

Dalam Islam, agama mencakup pemikiran dan perasaan, iman, mencakup perbuatan, dan apapun di luar itu, jika ada, yang relevan. Sudah pulalah ada bukti-bukti pendukungnya, yang cenderung pula dilupakan orang, misalnya tentang apa yang telah dicapai para generasi Islam awal, kegemilangan mereka yang tak terbantahkan sejarah, yang adalah contoh nyata pengejawantahan ini semua. 

Yang kemudian kiranya sebaiknya penting diwaspadai adalah bahwa pengkotak-kotakan itu bagi beberapa kalangan yang kurang awas (atau menjadi kurang awas, sengaja atau tidak), dapat menjadi jebakan berbahaya yang mungkin menjerumuskan mereka ke dalam pemahaman lebih lanjut yang juga terkotak-kotak. 

Demikian seterusnya dalam jebakan ’lingkaran setan’.

Pemahaman yang terkotak-kotak ini adalah serangkaian pemahaman-pemahaman yang tidak menyeluruh dan cenderung pula menyempit, walau memang pada dasarnya dapat saja demikian secara alami, dan secara naluriah tentu disesuaikan pula dengan potensi masing-masing, sekali lagi. 

Namun, apapun juga, keadaan ini, pengkotak-kotakan ini, tetap berbahaya, jika siapapun tak mempunyai gambaran menyeluruh (atau setidaknya mendekati menyeluruh) akan apapun yang ia hadapi. 

Dan keterkotak-kotakan ini, tentu saja dapat dipandang menjadi semacam satu pemecahan masalah (sementara) yang dapat melebar ke permasalahan baru (walaupun itu juga adalah satu kewajaran alami, Islami, manusiawi), sampai ke satu titik perhentian akhir nanti. Namun tetap tak lengkap. 

Maka dapat disadari pula kiranya, bahwa jamak pula umat manusia (setidaknya umat saat ini, sisa dari peradaban Modern yang digantikan masa Post-Modern saat ini, sejak Abad XXI Masehi masa ini, yang cenderung kembali ke hal alami, lebih Islami), mempercayai sangat akan kekuatan pemikiran (Akal) dan teknologi peradaban manusia (terutama dengan dipimpin cara peradaban Barat), yang ternyata sepanjang jaman pun masih pula berubah-ubah prinsipnya dan tidak membawakan kebaikan dan penyelesaian yang menyeluruh, integratif, paripurna, sistemik (kaafaah). 


SAINS DAN FILSAFAT SERTA MISTIK


Sebelum melangkah menuju pembahasan ini, berikut adalah beberapa hal yang perlu dipahami dalam khazanah Barat dan umum (karena jamak mengikuit pembagian ini), sebagai dasar dalam memahami pembagian-pembagian pembicaraan berikutnya tentang telaahnya. 

Prof. Ahmad Tafsir dari Indonesia dalam bukunya berjudul ”Filsafat Umum” menyebutkan tiga perbedaan dasarnya:

Sains: 

Didukung oleh bukti empiris (harus berdasarkan pengalaman atau dialami) dan logika. 

- Paradigma telaahnya adalah kaidah positif, dan metode ilmiah atau sains adalah sebagaimana dalam kalimat ”Buah ditanam, akan berbuah, dan buah ini terlihat nyata, dapat dimakan, dimanfaatkan.”

Filsafat: 

- Kebenaran yang didapatkan secara logis, tidak empiris (tidak dari pengalaman, tidak harus dialami). 

- Paradigmanya adalah kaidah logis, dan metode logisnya adalah sebagaimana dalam kalimat ”Buah ditanam, akan berbuah, maka, apakah guna lebihnya? Apakah maksudnya? Mengapa itu terjadi? Mengapa ada buah? Dsb. ...” 

Mistik: 

- Kebenaran yang tidak dapat dibuktikan secara empiris dan logis, misalnya tentang keberadaan Tuhan, makhluk halus (Jin) dan sebagainya. 

- Paradigmanya adalah kaidah mistis, beberapa kalangan menganggap metode latihannya adalah Dzikr, Riyadlah Sufistis dan lain-lain. 


Maka disebutkan pula, sebab timbulnya Filsafat sendiri adalah dari berbagai keindahan alam, fenomena alam, hukum alam, bahkan dongeng atau legenda masyarakat, dsb. Tujuan dari Filsafat (dan para pendukungnya) itu sendiri adalah untuk mencari pengetahuan sebenarnya, untuk ’menjadikan manusia menjadi manusia seutuhnya’ (dan ternyata gagal karena memisahkan potensi akal dan hati), dan isi dari Filsafat itu, tergantung dari obyek yang ditelitinya. 

Perbedaan Filsafat dengan Sains adalah bahwa obyek materia sains adalah empiris (nyata, dapat dialami), sedangkan obyek materia filsafat adalah abstrak (tak nyata), lebih luas atau non empiris mutlak (misalnya mengkaji tentang Tuhan, Hari Akhir, dsb.). 

Secara umum karenanya, manusia biasa menyebut pula bahwa Filsafat memanglah didasarkan pada Akal, dan para Filsuf serta peminatnya, adalah para pendungkung utama jalur Akal ini. 

Pendeknya, penelaahan jalur Akal adalah sama dengan (berdasarkan) Filsafat, dan dalam khazanah Barat, agama adalah sama dengan semata-mata mengandalkan telaah perasaan, Hati (satu hal yang berbeda dengan kaidah Islam tentang keduanya, yang patut ditelaah seimbang). 


... LANJUTAN ...

Rabu, 15 Desember 2010

seri telaah kristen VIII: Akidah dan Sejarahnya 1

.. LANJUTAN ...


RENUNGAN PENDAHULUAN

Beberapa kutipan ayat dari Injil tentang hukum Tuhan:

- Tuhan di Injil mengharamkan zinah dan memerintahkan agar para pelakunya dilempari batu sampai mati (IMAMAT 20:1-27 dan ULANGAN 22:13-30); 

- Tuhan mengharamkan anggur dan minuman keras (IMAMAT 10:9); 

- Tuhan mengharamkan beberapa binatang termasuk babi (IMAMAT 11:1-47 dan ULANGAN 14:3-21); 

- Tuhan mengharamkan darah (IMAMAT 17:12); 

- Beberapa hal termasuk sperma adalah najis (IMAMAT 15:1-34); 

- Lelaki yang mengeluarkan sperma atau bercampur dengan istri, keduanya harus mandi wajib (IMAMAT 15:16-18); 

- Tuhan mengharamkan riba atau berhutang dengan dibungakan (ULANGAN 23:19-20); 

- Yesus memerintahkan potong tangan/kaki bagi pencuri (MATIUS 5:30; 18:8 dan MARKUS 9:43,45); 

- Yesus memerintahkan cungkil mata bagi laki2 yang yang mengingini perempuan bukan istrinya (MATIUS 5:29; 18:9 dan MARKUS 9:47); 

- Yesus memerintahkan rajam bagi pelaku zinah (YOHANES 8:7); 

- Dan lain-lain.

Juga hukum Tuhan yang dimaklumkan Taurat, yang bertauhid dan berakhlak mulia yang disebutkan oleh Tuhan, dan dilaknatlah orang yang tidak melaksanakannya (Ulangan 27:15-24): 

Maka di dalam Injil, Dia berkata: 

[15] Terkutuklah orang yang membuat patung pahatan atau patung tuangan, suatu kekejian bagi Tuhan, buatan tangan seorang tukang dan yang mendirikannya dengan sembunyi... 
[16] Terkutuklah orang yang memandang rendah ibu bapanya... 
[17] Terkutuklah orang yang menggeser batas tanah sesamanya manusia... (*) 
[18] Terkutuklah orang yang membawa seorang buta ke jalan yang sesat... 
[19] Terkutuklah orang yang memperkosa hak orang asing, anak yatim dan janda...
[20] Terkutuklah orang yang tidur dengan istri ayahnya, sebab ia telah menyingkap punca kain ayahnya... 
[21] Terkutuklah orang yang tidur dengan binatang apa pun... 
[22] Terkutuklah orang yang tidur dengan saudaranya perempuan, anak ayah dan anak ibunya... 
[23] Terkutuklah orang yang tidur dengan mertuanya perempuan... 
[24] Terkutuklah orang yang membunuh sesamanya manusia dengan bersembunyi... 

(Ulangan 27:15-24)

(*) Bandingkanlah dengan apa yang dilakukan oleh bangsa Yahudi sekarang ini, yang menghancurkan bangsa Palestina dan menguasai tanah mereka, tanpa ada alasan yang (cukup) benar.


Ini semua, jika kita telaah, adalah sangat dekat dengan ajaran dan hukum Syari'ah dan akidah serta adab Islam. 

Bahkan beberapa hal darinya, adalah 'lebih keras' daripada standar Syari'ah Islam! 

Misalnya keharusan mencungkil mata bagi laki-laki yang mengingini perempuan bukan istrinya (di Islam tidak demikian) dan bahwa sperma itu adalah najis (di Islam tidak demikian), dan sebagainya. JUGA jika dibandingkan dengan standar hukum Modern (yang ternyata sudah ditinggalkan orang dan para pemikir dunia yang sejak akhir Abad XX Masehi kini berangsur-angsur beralih ke masa Pos Modern atau New Age yang juga semakin Islami itu). 

Dan ironisnya, ini semua, perintah dari Tuhan dan Yesus di Injil, tak dilaksanakan - atau setidaknya tak cukup diperhatikan dan dilaksanakan - oleh kaum Kristen, di masa lalu, apalagi di jaman sekarang, seperti kita ketahui bersama, kiranya. 

Apa yang terjadi? Mengapa sampai demikian? Siapakah yang bersalah dalam pengingkaran kolektifdan masif-komunal terhadap perintah Tuhan itu? 

Untuk itu, insya Allah kita akan menelusuri dasar akidah dan sejarahnya, setelah didahului dengan telaah akidah dan sejarah Yahudi di telaah sebelumnya di kiriman sebelumnya itu.

Insya Allah ini akan diimulai dari masa Abad Pertengahan - yakni mulai Abad I Masehi sampai kira-kira Abad XIV-XV Masehi - dan sedikit mengulas masa Filsafat Sofisme-Relativisme Yunani Kuno sebelum Masehi (pra Abad I Masehi) yang banyak menginspirasikan kaum ini, berlanjut ke masa Renaissance (sekitar Abad XV-XVII Masehi), masa Modern (sekitar Abad XVIII-XX Masehi) serta masa Pos-Modern atau Avant Garde atau New Age (saat ini). 


... BERSAMBUNG ... 

Minggu, 12 Desember 2010

seri telaah kristen VIII: sejarah yahudi dan perjanjian lama 7

..LANJUTAN ...


DAN KETAHUILAH pula, bahwa bahkan Kitab tertua dalam khazanah Kristen (dan Yahudi) juga tidak pernahlah menyatakan bahwa ada Tuhan selain Beliau, Yang Maha Tunggal, "Allah":


Penggunaan kata "Allah" yang berarti Tuhan sering kali terdengar agak aneh, esoterik, dan asing bagi telinga orang Barat (yakni sumber kerusakan agama Tauhid/Unitarian selama ini). 


Allah adalah kata dalam bahasa Arab yang berasal dari pemadatan "al" dan "Ilah". Ia berarti Tuhan atau menyiratkan "Satu Tuhan". 


Secara linguistik, bahasa Ibrani dan bahasa Arab terkait dengan bahasa-bahasa Semitik, dan istilah Arab "Allah" atau "al-Ilah" terkait dengan "El" dalam bahasa Ibrani, yang berarti "Tuhan" ((A) Toombs LE (1971) B) Schonfield HJ (1967))

. 
"El-Elohim" berarti "Tuhannya para tuhan" atau "Sang Tuhan" ((A) Beavin EL (1971) B) Toombs LE (1971) C) Schonfield HJ (1967))
. 

Ia adalah kata bahasa Ibrani yang dalam Perjanjian Lama diterjemahkan sebagai "Tuhan". 


Karena itu, kita bisa memahami bahwa penggunaan kata "Allah" adalah konsisten, bukan hanya dengan Al-Qur'an dan tradisi Islam, tetapi juga dengan tradisi-tradisi-biblikal yang tertua. 


Persamaan mendasar antara istilah Arab "al-Ilah", di mana Allah merupakan pemadatannya, dan istilah Ibrani "El-Elohim" bisa dipahami secara lebih jelas jika kita memerhatikan abjad bahasa Arab dan Ibrani. 


Baik bahasa Arab maupun Ibrani sama-sama tidak memiliki huruf untuk bunyi vokal!


Abjad kedua bahasa tersebut hanya terdiri dari konsonan, dan keduanya bersandar pada penandaan sebagai bunyi vokal yang secara khas ditemukan hanya dalam tulisan formal sebagai satu petunjuk pengucapan! 


Transliterasi bahasa Indonesia dari istilah Arab "al-Ilah" dan istilah Ibrani "El-Elohim" telah memasukkan penandaan-penandaan vokal ini.


Jika kita harus menghilangkan transliterasi Indonesia berupa penandaan-penandaan vokal ini, maka istilah Arab tersebut menjadi "al-Ilh" dan istilah Ibrani di atas menjadi "El-Elhm". 


Jika kita harus menghilangkan bentuk jamak, yang hanya ditemukan dalam bahasa Ibrani, maka istilah Arabnya tetap "al-Ilh", sementara istilah Ibraninya menjadi "El-Elh". 


Akhirnya, jika kita harus melakukan transliterasi atas seluruh "alif" dalam bahasa Arab sebagai "a", dan seluruh "alif" dalam bahasa Ibrani sebagai "a" juga, maka istilah Arabnya menjadi "Al-Alh", dan istilah Ibraninyapun menjadi "Al-Alh"!


Tidakkah engkau dapat melihat, betapa kesaamaannya adalah sangat jelas? :)


Dengan kata lain, dengan pengecualian tunggal bahwa bahasa Ibrani menggunakan bentuk jamak, "al-Ilah", di mana Allah merupakan pemadatannya, dan "El-Elohim", istilah Ibrani yang diterjemahkan sebagai Tuhan dalam Perjanjian Lama, benar-benar merupakan istilah yang sama sekali identik dalam bahasa Arab dan Ibrani, dua bahasa yang memiliki hubungan sangat erat. 


... BERSAMBUNG ... 

seri telaah kristen VII: sejarah yahudi dan perjanjian lama 6

Dikutip dari http://muslimstory.wordpress.com/2009/08/05/rencana-zionis-lucifer-freemason-yahudi-sudah-dekat-must-read/

Disarikan dari ceramah-ceramah penyusun di Depag lantai 7, 20-3-2007, berjudul “ ZIONISME & FREEMASONRY “, Di Masjid Istiqlal 12-4-2007, berjudul “ Mewaspadai Yahudi dan Musyrik”. Di FAKTA ( Forum Anti Kristenisasi & Pemurtadan ) Jakarta Timur 26-1-2008 berjudul “ Ahmadiyah & Yahudi “ dan lain-lain.

2. Peringatan Allah tentang Yahudi, baca “ 76 Karakteristik Yahudi dalam Al Qur’an “. Oleh Musthofa Al Maraghi, termasuk Al Maidah 82, Al Baqoroh 120, Al Fatihah 7, dll.

3. Dr. Mahathir Muhammad, “ The Jews Rule This World By Proxy “. Proxy yahudi berganti-ganti : Seluruh Dunia / Imprelaris, Prancis, Inggris, dan sekarang Amerika Serikat. Proxynya di Asean adalah Singapura, Washington tiap tahun manghasilkan 100 kebijkan yang manguntungkan yahudi dan Israel (lewat AIPAC).

1. Freemasory & Iluminati (1-12)

Hancurkan musuh-musuhnya lewat ● FINANCE ● FOODS ● FILMS ● FASHION ● FANTASY ● FAITH ● FRICTION ● Complicting Ideologis ● Industri Senjata / Jadwal Perang ● Lembaga Keuangan Internasional ● Industri Logistik / Rekonstruksi Pasca Perang ● Industri / Pengebaran Candu / Narkoba / Miras / Rokok ●.

2. Zionisme Internasional (13-21)

● Ciptakan / kendalikan The New World Order ● Ciptakan Revolusi Nasional & Perang Dunia ● Rekayasa Separatisme dan desintegrasi ● Ciptakan Revolusi Sex (Freesex, Homosex, Lesbian) ● Rusak Keluarga (Domestic Partner, Aborsi) ● Buat Aliran – Aliran Sesat ● Buat / Kuasai Senjata Biologis / Virus / Senjata Cuaca / Pemusnah Massal ● Promosikan Sekularisme sebagai agama baru / masa depan ● Promosikan Multi Partai.

3. Internasional Missionary(22-29)

● Hujat Keabsahan Al Qur’an ● Singkirkan Syariah Islam ● Ciptakan Keraguan Terhadap Kebenaran Islam ● jauhkan Dunia Islam dari Science, Technology & Industri ● Rusak Akal dan Moral Generasi Muda ● Pecah Belah Dunia Arab / Islam ● Ciptakan Diktatorisme di Dunia Islam ● Dunia Islam hanya jadi Konsumen dan Importir ●.

4. Trio Imperialisme(30-38)

● Ciptakan Program-Program kemiskinan ● Kuasai Aset Ekonominya ● Kuasai Kekayaan Alamnya ● Kuasai Aset Informasinya ● Kuasai Sistem Politik dan Hukumnya ● Hancurkan Moral Rakyatnya ● Hancurkan Militansi Rakyatnya ● Suburkan Deislamisasi (Sekularisme, Liberalisme, & Pluralisme) ● Ramaikan Pemurtadan ●.

5. Skenario Separatisme dan Agressi dari luar(39-46)

● Terpurukkan Ekonomi Nasionalnya ● Pertentangan Elit Politiknya ● Suburkan Komflik Horizontalnya ● Pecah – belah Militernya ● Datangkan “ Pasukan Perdamaian “ ● Buat serbuan Paradigmatis ● Buat Sel-Sel Perlawanan ● Invasi Militer Setelah Diciptakan Status Legal Intervention ●.

6. Penyebaran Pemikiran Sesat(47-50)

● Karl Marx (Materialisme dan Atheisme) ● Sigmund Froud (Instinc Sexual & Libido) ● Nietze (Mencari Kepuasan Meski Dengan Kekejian) ● Charles Darwin (Manusia dari Monyet, yang Kuat harus mengalahkan yang lemah).

7. Penghancuran Dunia Abad 21(51-57)

● Membom Mekkah (Usul Senator Tancredo) ● Hapuskan Indonesia 2025 ● Hapuskan Pakistan 2025 ● Hapuskan beberapa Negara Afrika 2025 ● Perang Dunia ke III (Untuk Membuat Israel Raya) ● The New Crusade ● Membunuh 3 Miliyar penduduk yang tidak disukai dengan kelaparan & penyakit th 2050 (proyek 2025 diusulkan oleh W. Cohen).

8. Brainwashed Muslims(58-64)

● Ada 60.000 Agen Intel Asing Muslim Indonesia ● Ada 200.000 Intelektual Muslim Yang Telah Di Cuci Otaknya Di Amerika Serikat / Barat ● Lebih 30 LSM Islam Dibina The Asia Foundation (TAF) ● Pesaantren-Pesantren Indonesia Yang Dibantu pemerintah Amerika / Australia ● Seluruh UIN dan IAIN wajib menggunakan kurikulum kewarganegaraan “ Sumbangan “ Amerika dalam soal Pluralisme, Liberalisme, Sekularisme dan Dosen 66 Universitas Islam Swasta sejak 2006 dibina oleh TAF ● Ulama & Intelektual Muslim mengaku mewakili ormas-ormas Islam dan UIN bermesraan dengan para pemimpin Yahudi / Israel sejak 2007 ● Tokoh-tokoh Aliran Sesat dan Islam binaan Amerika mengusulkan pembubaran MUI.

KEYAKINAN AGAMA YAHUDI ì ZIONISME ISRAEL / INTERNASIONAL

I.

1. Yahudi yang kita ketahui berkitab suci Taurot (yang diturunkan kepada Nabi Musa as ) tetapi sekarang tidak dipakai sama sekali bahkan sengaja dihilangkan. Taurat yang sekarang telah diubah-ubah oleh Samhandren (Pendeta Yahudi Tertinggi). Sehingga ayat-ayatnya banyak yang baru.

2. Kitab yang sekarang jadi pegangan adalah Thalmud ; bukan berasal dari “ langit “ tetapi sebuah kitab yang berasal dari para penyihir di zaman Mesir Kuno yang menganut ajaran Kaballah (menyembah syetan Lucifer).

3. Para yahudi Zionis Israel yang mempropagandakan sekularisme berpedoman pada hasil rapat “ Pinisepuh Zion “ di Basel ( Swiss ) tahun 1897 yang bernama “ The Protocols Of The The Meetings Of The Elders Of Zion “, yang ingin mendirikan Negara Israel → Israel Raya dan menguasai Dunia baru lewat tipu daya Demokratisasi, HAM, Privatization, Free Trade, Globalization, dan lain-lain.

4. beberapa ayat Talmut itu antara lain :

· Seoraang robbi telah mendebat Tuhan dan mengalahkannya. Tuhanpun mengakui bahwa robbi itu memenangkan debat tersebut ( Baba Mezian 59b)

· Inilah kata-kata dari Rabbi Simeon Ben Yohai, “ Bahkan orang kafir (Gentiles) yang paling baik pun seluruhnya harus dibunuh” (Perjanjian Kecil, Soferin 15)

· Hanya orang-orang yahudi yang manusia, sedangkan orang-orang non yahudi (Gentiles atau Ghoyim) bukanlah manusia melainkan binatang, (Kerithuth 6b).

· Orang-orang non-yahudi diciptakan sebagai budak untuk melayani orang-orang yahudi (Midraseh Talpioth 225).

· Angka kelahiran orang-orang non-yahudi harus ditekan sekecil mungkin ( Zohar II,4b).

· Tuhan tidak pernah marah kepada orang yahudi melainkan hanya marah kepada orang-orang non-yahudi (Talmud IV/8/4a).

· Orang yahudi harus selalu berusaha untuk menipu orang-orang non-yahudi (Zohar,168a).

· “ Wahai anakku, hendaklah engkau lebih mengutamakan fatwa dari ahli kitab Talmud dari pada ayat-ayat Taurat (Talmud Erubin 2a).


sumber : http://entamchengho.multiply.com/

... BERSAMBUNG ...